Recruiter, pernah nggak sih kamu mendengar istilah “bad hire” di dalam dunia Human Resource (HR)? Jika iya, fenomena apakah ini dan mengapa penting untuk diketahui?
Sederhananya, bad hire adalah kondisi ketika karyawan baru yang sudah bergabung di suatu perusahaan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Saat situasi ini sudah terjadi, tak hanya sekadar menghambat produktivitas tim, hal ini juga bisa menambah beban biaya dan waktu bagi perusahaan, atau biasa disebut sebagai cost of bad hire.
Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana HR bisa mencegah risiko ini terjadi? Untuk mengetahui jawabannya, simak terus artikel ini sampai akhir, ya!
Daftar Isi
ToggleMengenal Bad Hire dan Dampaknya Bagi Perusahaan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bad hire adalah suatu keadaan di mana karyawan baru yang direkrut ternyata tidak memenuhi ekspektasi perusahaan sehingga memicu penurunan produktivitas sekaligus meningkatkan biaya dan waktu proses rekrutmen.
Artinya, ekspektasi yang memenuhi pekerja di sini tidak sesuai dengan kebutuhan dan standar perusahaan. Risiko ini biasanya terjadi ketika dalam proses rekrutmen dilakukan tanpa perencanaan yang matang, atau terlalu terburu-buru mengisi posisi kosong.
Dampaknya, perusahaan bisa mengalami cost of bad hire atau kerugian akibat perekrutan yang buruk, hingga waktu dan tenaga yang banyak terbuang. Selain itu, keputusan rekrutmen yang keliru juga dapat memengaruhi reputasi perusahaan dan suasana kerja, misalnya meningkatnya ketidakpuasan karyawan, berkurangnya kepercayaan klien, hingga dapat meningkatkan turnover.
5 Penyebab Umum Terjadinya Bad Hire

Lalu, apa sebenarnya penyebab kesalahan dalam proses rekrutmen bisa terjadi? Beberapa hal di antaranya, seperti:
1. Terburu-buru Mengisi Posisi Kosong
Pada dasarnya, keputusan perusahaan yang ingin segera mengisi posisi kosong agar membantu pekerjaan suatu tim dan karyawan lain memang bukan hal yang salah. Namun, jika terlalu terburu-buru hingga melewatkan proses seleksi penting, kondisi ini justru dapat meningkatkan risiko memilih kandidat yang tidak sesuai dengan kebutuhan tim.
2. Kurangnya Informasi Seputar Kandidat
Bad hire dapat terjadi ketika perusahaan tidak mengumpulkan informasi kandidat secara menyeluruh, sehingga sulit menilai kecocokan dengan kebutuhan posisi. Minimnya data tentang pengalaman, keterampilan, atau kepribadian kandidat dapat membuat perusahaan salah memilih orang yang tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan.
3. Citra Perusahaan yang Belum Kuat
Tahukah kamu, citra perusahaan yang kurang dibangun juga bisa menjadi penyebab terjadinya bad hire, lho. Ya, citra atau brand perusahaan yang kurang kuat dapat mengurangi minat talenta berkualitas, sehingga kandidat yang masuk selalu tidak sesuai standar.
4. Strategi yang Disusun Kurang Jelas
Proses rekrutmen yang dilakukan tanpa adanya strategi yang jelas, atau bahkan hanya mengandalkan intuisi dalam menilai kandidat membuat perusahaan lebih rentan memilih calon karyawan yang tidak sesuai.
Pentingnya bagi perusahaan memiliki pendekatan yang terstruktur, seperti mempunyai standar wawancara dan penilaian kompetisi sesuai visi dan misi perusahaan.
5. Investasi yang Kurang pada Proses Onboarding
Terakhir, faktor terjadinya bad hire bisa disebabkan karena proses onboarding yang lemah karena dana yang kurang dipersiapkan. Sehingga, karyawan baru merasa kesulitan untuk beradaptasi, yang mana hal ini bisa menurunkan performa mereka di awal masa kerja.
Risiko yang lebih besarnya, kesalahan dalam proses rekrutmen ini juga dapat membuat para pekerja lebih cepat memutuskan resign, hingga meningkatkan terjadinya turnover di perusahaan.
Lalu, Bagaimana Cara Menghindari Bad Hire?

Melansir Harvard Business Publishing, ada sejumlah cara yang bisa diterapkan untuk menghindari kesalahan proses rekrutmen yang sudah disebutkan sebelumnya tidak dialami oleh perusahaanmu, seperti:
1. Perkuat Proses Seleksi Sejak Awal
Banyak kasus bad hire terjadi karena perusahaan terlalu cepat percaya pada CV atau penampilan kandidat saat interview. smemperoleh kesan pertama dari CV atau penampilan pun tidak ada salahnya.
Tapi perlu dicatat, selain melihat dari segi penampilan, pastikan kamu juga melakukan proses seleksi yang lebih dalam sejak awal. Mulai dari mengecek apakah skill dan kemampuan yang dimiliki kandidat valid, seperti apa cara kerjanya, hingga bagaimana kecocokan mereka saat bekerja bersama tim. Informasi ini bisa kamu dapatkan dengan cara menghubungi kontak referensi dari perusahaan sebelumnya atau dari kerabat terdekat yang dimiliki kandidat.
2. Terapkan Sistem Wawancara yang Terstruktur
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, salah satu penyebab kesalahan dalam proses rekrutmen adalah perusahaan tidak memiliki strategi yang jelas bahkan hanya mengandalkan intuisi saat menilai kecocokan kandidat dengan posisi.
Untuk itu, alih-alih mengandalkan perasaan saat memilih kandidat, sebaiknya gunakan pertanyaan dan kriteria yang umum untuk semua kandidat. Pendekatan yang terstruktur membantu HR membuat penilaian yang lebih objektif dan mencegah salah pilih hanya karena kandidat terlihat meyakinkan di awal.
3. Lakukan Evaluasi Rutin Setelah Kandidat Mulai Bekerja
Penting untuk diketahui bahwa proses rekrutmen tidak begitu saja selesai setelah kandidat diterima dan mulai bekerja. Namun, kamu tetap perlu melakukan review dan mengevaluasi secara berkala karyawan.
Mengapa hal ini perlu dilakukan? Proses ini dapat membantumu melihat apakah performa dan sikap mereka selama bekerja benar-benar sesuai harapan dan selaras dengan jawaban yang diberikan kandidat selama interview.
Hindari Bad Hire dengan Memilih Kandidat yang Tepat
Demikian penjelasan lengkap mengenai bad hire, mulai dari definisi, penyebab, hingga cara menghindarinya!
Jika perusahaamu sedang mencari kandidat terbaik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, Bosshire bisa menjadi solusi yang tepat untukmu! Dengan kesempatan untuk mengunggah berbagai lowongan pekerjaan di Job Portal Bosshire, kamu akan lebih mudah menemukan kandidat yang cocok.
Yuk, manfaatkan peluang yang ada dan wujudkan kandidat impian perusahaanmu sekarang juga, bersama Bosshire!
