Industry Insight

Apa itu Tren Kabur Aja Dulu?  Fenomena Krisis Pencari Kerja di Indonesia

Bosshire

February 21, 2025

Apa itu Tren Kabur Aja Dulu? Fenomena Krisis Pencari Kerja di Indonesia

Tren Kabur Aja Dulu yang dimulai dengan tagar #Kaburajadulu di X kini menyebar ke seluruh platform media sosial. Viral sejak awal 2025, tagar #KaburAjaDulu menggambarkan frustrasi generasi muda Indonesia yang “capek” dengan masalah lapangan kerja, gaji minim, hingga korupsi. Tapi, tahukah kamu fenomena ini bukan hal baru?

Tren Medsos atau Alarm untuk Indonesia?

Sejak era Orde Baru, Indonesia sudah mengalami gelombang brain drain—ketika talenta terbaik “kabur” ke luar negeri. Bedanya, sekarang generasi Z dan milenial punya platform untuk menyuarakan keresahan mereka secara masif. Sebagai pencari kerja, apa pilihanmu? Bertahan atau ikut kabur? Yuk, telusuri sejarah, data, dan solusinya!

Kabur Aja Dulu: Refleksi Krisis Kepercayaan Generasi Muda

Tagar ini muncul bukan tanpa alasan. Survei BPS Agustus 2024 mencatat 7,4 juta pengangguran, dengan 842.378 di antaranya lulusan S1-S3. Hal ini mendorong pekerja Indonesia khususnya yang memiliki gelar pereguruan tinggi untuk bekerja di luar negeri. Berikut adalah beberapa alasan banyak WNI pindah ke luar negeri:

 Gaji yang Signifikan Lebih Tinggi di Luar Negeri

Pekerja migran di negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, atau Australia seringkali mendapatkan gaji yang berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan gaji yang mereka terima di Indonesia. Hal ini didorong oleh perbedaan standar upah minimum, biaya hidup, dan nilai tukar mata uang antara Indonesia dan negara-negara tujuan. Gaji yang lebih tinggi ini memungkinkan pekerja migran untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan keluarga mereka, serta menabung untuk masa depan.

Sistem Rekrutmen yang Tidak Transparan dan Tidak Adil:

Di Indonesia, praktik “jalur orang dalam” dan nepotisme masih sering terjadi dalam proses rekrutmen kerja. Hal ini menyebabkan banyak pekerja yang merasa bahwa mereka tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, terlepas dari kualifikasi dan kompetensi mereka. Di sisi lain, negara-negara seperti Kanada, Jerman, Australia, dan Selandia Baru memiliki sistem rekrutmen yang lebih transparan dan berbasis meritokrasi. Kualifikasi, keterampilan, dan pengalaman kerja menjadi faktor utama dalam proses seleksi, sehingga pekerja merasa bahwa mereka memiliki kesempatan yang lebih adil untuk mendapatkan pekerjaan.

Kurangnya Lapangan Kerja dan Kesejahteraan

Tingkat pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi, sementara lapangan kerja yang tersedia seringkali tidak sesuai dengan kualifikasi dan minat para pencari kerja. Selain itu, banyak pekerja di Indonesia yang bekerja di sektor informal atau menjadi pekerja kontrak dengan upah yang rendah dan perlindungan sosial yang minim. Hal ini mendorong banyak pekerja untuk mencari peluang kerja di luar negeri, di mana mereka berharap dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik dan perlindungan sosial yang lebih memadai.

Stabilitas Politik dan Keamanan

Kondisi politik dan keamanan di Indonesia dapat mempengaruhi keputusan pekerja untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Jika situasi politik tidak stabil atau terjadi konflik sosial, beberapa pekerja mungkin merasa lebih aman dan nyaman bekerja di negara lain yang memiliki stabilitas politik dan keamanan yang lebih baik.

Sejarah Brain Drain Indonesia: Dari Habibie Hingga Generasi TikTok

Fenomena brain drain bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak tahun 1960-an, saat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia memilih untuk tidak kembali ke tanah air. Kemudian, pada era 1980-an, program BJ Habibie yang mengirim ratusan pelajar ke luar negeri juga mengalami hal serupa, dimana sebagian besar pelajar memilih untuk bekerja di AS.

Data terbaru menunjukkan bahwa antara tahun 2019 hingga 2022, sebanyak 3.912 WNI beralih kewarganegaraan menjadi warga negara Singapura, dengan mayoritas berusia produktif antara 25-35 tahun.

Selain itu, Schoters, sebuah platform beasiswa luar negeri, mencatat peningkatan minat yang signifikan untuk belajar dan bekerja di luar negeri. Acara Study and Work Abroad Festival 2024 yang mereka selenggarakan dihadiri oleh 100.000 peserta, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Berkontribusi, Apapun Pilihanmu

Wamenaker Immanuel Ebenezer sempat berkelakar, “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi,” namun Menaker Ida Fauziyah justru melihat fenomena ini sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja yang layak.

Fenomena #KaburAjaDulu mencerminkan adanya krisis, namun juga membuka peluang. Sosiolog Daisy Indira Yasmine dari Universitas Indonesia (UI) menyatakan bahwa fenomena ini adalah peringatan bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan aspirasi rakyat. 

Bagi kamu yang masih mau berjuang di Indonesia, maka bisa langsung cek list lowongan kerja di job portal high quality pertama di Indonesia di Bosshire. Apapun pilihan kamu, baik ikut pergi atau tetap tinggal, pastikan kamu memberikan kontribusi positif bagi orang Indonesia dimanapun kamu berada! Semangat terus Top Talents!