Pernah mendengar istilah boomerang employee? Istilah ini umum digunakan untuk menggambarkan karyawan yang kembali bergabung dengan perusahaan setelah sebelumnya mengundurkan diri dan sempat bekerja di perusahaan lain.
Namun, dari perspektif HR, apakah keputusan tersebut memberikan manfaat bagi perusahaan atau justru menimbulkan potensi kerugian?
Di artikel ini, kamu akan memahami lebih jauh mengenai apa itu boomerang employee, berbagai alasan yang melatarbelakangi kembalinya mantan karyawan ke perusahaan sebelumnya, serta apakah keputusan tersebut menguntungkan atau justru kurang menguntungkan bagi perusahaan. Yuk, simak pembahasannya!
Daftar Isi
ToggleApa Itu Boomerang Employee?

Boomerang employee merujuk pada ‘mantan’ karyawan yang kembali bekerja di perusahaan tempat ia pernah berkarier sebelumnya setelah sempat bergabung dengan perusahaan lain. Istilah ini menggambarkan pola karier yang “berputar” seperti boomerang yaitu pergi lalu kembali ke titik awal.
Mengutip Forbes, fenomena ini dinilai sebagai aset potensial bagi perusahaan yang ingin membangun tenaga kerja yang solid dengan tingkat retensi jangka panjang yang tinggi. Maksudnya, karyawan yang kembali ke perusahaan sebelumnya sering kali sudah memiliki pemahaman mendalam tentang budaya, sistem, dan ekspektasi kerja. Sehingga, mereka dianggap dapat berkontribusi lebih cepat dan berpotensi untuk bertahan lebih lama dibandingkan karyawan baru.
Mengapa Mantan Karyawan Memutuskan untuk Kembali?
Setiap individu tentu memiliki pertimbangan yang berbeda saat memutuskan untuk kembali ke perusahaan sebelumnya. Namun secara umum, terdapat tiga alasan utama yang kerap menjadi dasar dari keputusan tersebut:
1. Peluang Karier yang Lebih Jelas
Tidak jarang perusahaan lama menawarkan posisi, tanggung jawab, atau jenjang karier yang lebih jelas dibandingkan tempat kerja baru.
2. Budaya Kerja yang Lebih Cocok
Setelah mencoba lingkungan kerja baru, karyawan menyadari bahwa budaya, gaya kepemimpinan, atau dinamika tim di perusahaan sebelumnya ternyata lebih sesuai dengan nilai dan preferensi mereka. Hubungan yang sudah terbangun dengan atasan dan rekan kerja di perusahaan lama sering kali menjadi pertimbangan kuat dibandingkan harus beradaptasi dari awal di lingkungan baru.
3. Faktor Kompensasi dan Benefit
Aspek kompensasi dan benefit juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan untuk kembali. Dalam beberapa kasus, perusahaan menawarkan benefit yang disesuaikan dengan pengalaman dan kompetensi terbaru yang dimiliki karyawan, sehingga dinilai lebih relevan dengan ekspektasi dan perkembangan kariernya.
Kenapa Perusahaan Masih Menerima Karyawan Lama?

Lantas, apa yang membuat perusahaan lebih terbuka untuk menerima kembali ‘mantan’ karyawan dibandingkan merekrut tenaga kerja baru? Berikut beberapa alasannya:
1. Proses Adaptasi Lebih Cepat
Mantan karyawan umumnya sudah memahami budaya kerja, sistem, serta alur operasional perusahaan. Hal ini membuat proses onboarding menjadi lebih singkat dibandingkan merekrut karyawan baru dari nol.
2. Risiko Rekrutmen Lebih Rendah
Perusahaan sudah memiliki rekam jejak performa dan etos kerja karyawan tersebut. Dengan begitu, risiko kesalahan rekrutmen (mis-hire) bisa lebih diminimalkan.
3. Karyawan Membawa Perspektif dan Pengalaman Baru
Setelah bekerja di tempat lain, karyawan biasanya kembali dengan tambahan keterampilan, wawasan industri, serta praktik kerja baru yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
4. Efisiensi Biaya dan Waktu Rekrutmen
Dalam beberapa kasus, merekrut kembali mantan karyawan dapat menghemat waktu dan biaya proses seleksi karena perusahaan tidak perlu memulai proses pencarian kandidat dari awal.
Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Merekrut Kembali

Meskipun berpotensi memberikan berbagai manfaat, perusahaan tetap perlu melakukan sejumlah pertimbangan sebelum memutuskan untuk merekrut kembali karyawan tersebut. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
1. Alasan Karyawan Keluar Sebelumnya
Perusahaan perlu mengevaluasi alasan di balik pengunduran diri sebelumnya. Apakah karena faktor personal, peluang karier, konflik internal, atau ketidakpuasan terhadap manajemen? Hal ini penting untuk memastikan bahwa permasalahan yang sama tidak terulang.
2. Rekam Jejak dan Performa Kerja
Riwayat kinerja saat masih bekerja di perusahaan juga menjadi pertimbangan utama. Perusahaan perlu menilai apakah karyawan tersebut memiliki kontribusi yang positif dan profesionalisme yang konsisten.
3. Perubahan dalam Organisasi
Struktur, budaya, maupun kebijakan perusahaan mungkin sudah berubah ketika karyawan tersebut meninggalkan perusahaan. Penting untuk memastikan bahwa kandidat memahami perubahan tersebut dan siap beradaptasi kembali.
4. Kesesuaian Ekspektasi
Diskusi terbuka mengenai ekspektasi posisi, tanggung jawab, kompensasi, dan jalur karier juga perlu dilakukan sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
Menilai Keuntungan dan Kerugian Boomerang Employee
Keputusan untuk merekrut kembali ‘mantan’ karyawan tidak dapat secara langsung dinilai sebagai menguntungkan atau merugikan. Dampaknya bergantung pada alasan karyawan tersebut sebelumnya meninggalkan perusahaan, rekam jejak kinerjanya, serta kebutuhan organisasi saat ini. Dalam kondisi yang tepat, boomerang employee dapat menjadi aset jangka panjang bagi perusahaan.
Namun, tanpa evaluasi yang menyeluruh, keputusan ini juga dapat menimbulkan risiko, seperti terulangnya permasalahan lama atau ketidaksesuaian ekspektasi. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan, perusahaan sebaiknya mempertimbangkannya secara matang agar langkah tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan arah perkembangan perusahaan ke depan.
Temukan Talenta Terbaik Bersama Bosshire
Jika perusahaanmu sedang membuka posisi baru, kamu dapat mengunggahnya melalui Job Portal Bosshire untuk mempermudah proses pencarian kandidat yang tepat. Bersama Bosshire, menemukan talenta terbaik untuk kebutuhan perusahaan jadi lebih praktis, cepat, dan efisien.
Kunjungi Job Portal Bosshire sekarang dan dapatkan kandidat terbaik untuk mendukung perkembangan perusahaanmu!
