Etika bermedia sosial menjadi hal penting yang sering kali diabaikan oleh banyak jobseeker. Sebagian beranggapan bahwa membagikan tulisan atau konten melalui media sosial hanyalah bentuk ekspresi pribadi, tanpa menyadari bahwa setiap unggahan dapat membentuk citra profesional di mata HR maupun perusahaan.
Terlebih lagi, rekam jejak online kini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi HR dalam menilai karakter dan profesionalisme seorang kandidat. Oleh karena itu, yuk pelajari etika bermedia sosial di dunia kerja yang wajib jobseeker ketahui melalui artikel ini!
Daftar Isi
ToggleApakah HR Melihat Media Sosial Kandidat Sebelum Merekrut?

Ya! Sebagian besar perusahaan kini sudah menjadikan proses background checking sebagai bagian penting dari tahapan rekrutmen. Menurut Scout Logic, akun media sosial jadi salah satu hal yang sering dicek dalam proses background checking sebelum merekrut seseorang.
Pemeriksaan ini meliputi verifikasi data pribadi, riwayat pekerjaan, hingga aktivitas online kandidat. Dengan memeriksa media sosial seperti LinkedIn, Instagram, atau X (Twitter), HR dapat menilai profesionalisme maupun etika kandidat.
Untuk itu, jobseeker perlu menjaga etika bermedia sosial, karena setiap aktivitas di media sosial dapat memengaruhi penilaian HR serta peluang diterima kerja.
Apa Tujuan HR Melihat Media Sosial Kandidat?
Dengan semakin banyaknya jobseeker yang mencantumkan informasi akun media sosial di CV atau portofolio, hal ini tentu semakin memudahkan HR dalam melakukan pengecekan. Akan tetapi, pengecekan ini tentu dilakukan dengan tujuan. Adapun 3 tujuan utamanya yaitu:
1. Menilai Kepribadian dan Kesesuaian Budaya Kerja
Umumnya, pengecekan ini dilakukan karena HR ingin mengetahui apakah kepribadian kandidat sesuai dengan budaya dan nilai perusahaan. Melalui unggahan, komentar, hingga cara berinteraksi di media sosial, HR dapat melihat bagaimana kandidat berkomunikasi, bersikap, dan mengekspresikan diri di ruang publik digital.
2. Memverifikasi Informasi yang Diberikan di CV
Pengecekan media sosial juga membantu HR memastikan bahwa data yang tercantum di CV atau portofolio sesuai dengan kenyataan. Misalnya, pengalaman kerja, proyek, atau organisasi yang disebutkan dapat dikonfirmasi melalui media sosial profesional seperti seperti LinkedIn.
3. Mengidentifikasi Jejak Digital yang Berpotensi Negatif
HR juga perlu memastikan tidak ada jejak digital yang dapat merugikan reputasi perusahaan di masa depan. Unggahan yang mengandung ujaran kebencian, perilaku tidak etis, atau konten yang tidak pantas bisa menjadi pertimbangan dalam keputusan rekrutmen.
5 Etika Bermedia Sosial yang Wajib Diterapkan oleh Jobseeker

Agar peluang diterima bekerja semakin meningkat, berikut 5 etika bermedia sosial yang perlu diterapkan jobseeker!
1. Hindari Mengunggah Keluhan tentang Tempat Kerja Sebelumnya
Banyak jobseeker yang tidak sadar bahwa menulis keluhan atau sindiran mengenai pekerjaan sebelumnya di media sosial bisa menimbulkan kesan negatif. HR dapat menganggap kamu sulit diajak bekerja sama atau kurang mampu menjaga rahasia internal perusahaan.
2. Pisahkan Akun Personal dan Profesional
Meski terlihat sepele, memisahkan akun personal dan profesional adalah cara yang penting dalam menjaga etika bermedia sosial. Akun pribadi bisa kamu gunakan untuk berbagi kehidupan sehari-hari, sementara akun profesional lebih difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan karier atau industri pekerjaan yang kamu jalani.
Dengan begitu, HR bisa menilai sisi profesionalmu tanpa terpengaruh oleh konten pribadi yang tidak relevan. Selain itu, kamu juga bisa lebih bebas berekspresi tanpa khawatir citra profesionalmu ikut terdampak.
3. Batasi Unggahan yang Bersifat Negatif atau Kontroversial
Mengunggah hal-hal yang bernada negatif, penuh drama, atau terlalu kontroversial bisa menimbulkan kesan kurang profesional di mata HR. Sebisa mungkin, jaga agar isi media sosialmu tetap positif dan proporsional. Tunjukkan kepribadian yang dewasa dan mampu mengelola emosi dengan baik, karena hal ini dapat mencerminkan kesiapanmu dalam dunia kerja.
4. Hargai Privasi Pengguna Media Sosial Lainnya
Hindari membagikan informasi pribadi orang lain di media sosial tanpa izin, seperti foto, percakapan, atau data sensitif. Tindakan tersebut tidak hanya bisa dianggap melanggar privasi, tetapi juga dapat memberikan kesan negatif di mata HR yang mungkin menelusuri profilmu. Perusahaan umumnya mencari kandidat yang mampu menjaga kepercayaan dan bersikap profesional, termasuk dalam dunia digital.
5. Hindari Membagikan Informasi Diri yang Palsu

Kejujuran adalah salah satu nilai paling penting yang dilihat oleh HR dari kandidat yang akan direkrut. Oleh karena itu, hindari membagikan informasi diri yang tidak sesuai fakta di media sosial, seperti posisi pekerjaan yang dilebih-lebihkan, pengalaman kerja yang tidak benar, atau prestasi yang belum pernah diraih. Biasanya, ini dapat terjadi di platform LinkedIn, di mana seluruh hal tersebut bisa ditampilkan dengan menggunakan fitur-fiturnya.
Selalu pastikan setiap informasi yang kamu tampilkan, baik di LinkedIn, Instagram, maupun platform profesional lainnya, mencerminkan identitas dan pengalamanmu yang sebenarnya.
Intinya, menggunakan media sosial itu boleh banget! Akan tetapi, perlu diperhatikan etika-etika yang berlaku, terutama jika kamu sedang mencari pekerjaan atau ingin membangun citra profesional. Setiap unggahan dan interaksi di dunia digital bisa menjadi cerminan kepribadian serta nilai-nilai yang kamu tunjukkan kepada publik. Termasuk kepada HR, recruiter, ataupun sesama jobseeker lainnya.
Terhubung dengan HR dari Berbagai Perusahaan, Sekarang!
Jelajahi lebih dari 1000+ pekerjaan dan tentukan yang paling sesuai dengan minat, pengalaman, dan keahlian kamu di Job Portal Bosshire. Yuk, langsung terhubung dengan HR dari berbagai perusahaan, dengan lamar pekerjaan impianmu sekarang juga!
