- Perusahaan besar seperti Bukalapak dan Microsoft mulai mengadopsi AI untuk efisiensi, memicu PHK massal. Namun, AI juga membuka peluang kerja baru di berbagai sektor.
- Meskipun beberapa pekerjaan terdampak otomatisasi, peran seperti Data Analyst, Machine Learning Specialist, dan AI Modelling Specialist semakin dibutuhkan di era digital.
Daftar Isi
ToggleGelombang PHK di Tahun 2025
Pada awal tahun 2025, tagar PHK terus menerus menghiasi judul berita media Indonesia. Mulai dari Bukalapak—raksasa e-commerce Indonesia—yang melakukan restrukturisasi yang berdampak pada sejumlah karyawan. Tak sendirian, Microsoft juga memangkas 5% tenaga kerjanya secara global, seperti dilaporkan CNBC.
Di balik berita ini, ada pola serupa: perusahaan-perusahaan besar mulai mengadopsi artificial intelligence (AI) untuk efisiensi operasional.
Baca juga: Apa itu Tren Kabur Aja Dulu? Fenomena Krisis Pencari Kerja di Indonesia
Tapi benarkah AI hanya membawa ancaman PHK? Di Indonesia, jawabannya mungkin lebih kompleks. Tahukah kamu bahwa Bukalapak merupakan salah satu perusahaan di 3 sektor Indonesia yang akan paling terdampak oleh AI di masa depan? Atau dengan adanya AI maka mulai terbuka kesempatan pekerjaan yang lain di Indonesia?
Artikel Bosshire hari ini akan sangat relevan dengan kamu yang bingung tentang cara menempatkan diri sebagai pekerja di tengah kemajuan AI yang sangat pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Apa Itu Artificial Intelligence dan Contohnya di Indonesia?
Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia, seperti analisis data, pengenalan suara, atau pengambilan keputusan. Di Indonesia, penerapan AI sudah mulai terlihat di berbagai sektor, terlebih lagi di 3 sektor berikut: Pertanian, kesehatan, dan e-commerce.

Misalnya, dalam sektor pertanian, AI digunakan untuk memprediksi cuaca dan mengoptimalkan irigasi. Menurut laporan Snapcart, penggunaan AI dalam pertanian di Jawa dan Sumatra telah meningkatkan produktivitas hingga 20% dalam proyek percontohan.
Di sektor kesehatan, AI juga mulai dimanfaatkan untuk analisis data pasien dan prediksi penyakit. Meskipun belum sepenuhnya menggantikan peran dokter, teknologi ini membantu mengurangi beban kerja tenaga medis.
Contoh lain adalah di sektor e-commerce, di mana AI digunakan untuk personalisasi rekomendasi produk dan optimasi logistik. Tokopedia dan Bukalapak merupakan salah satu pemain e-commerce di Indonesia yang telah mengintegrasikan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan efisiensi operasional.
Dari Mesin Uap ke ChatGPT: Sejarah Singkat Revolusi yang Semakin Cepat
Revolusi industri pertama, yang dimulai pada tahun 1760, mengandalkan mesin uap untuk meningkatkan produktivitas. Revolusi kedua, yang dimulai pada akhir abad ke-19, ditandai dengan penemuan listrik dan produksi massal. Revolusi ketiga, yang dimulai pada pertengahan abad ke-20, dipicu oleh kemajuan teknologi informasi dan komputer.
Kini, kita berada di tengah revolusi industri keempat, yang dipicu oleh artificial intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Yang menarik, jarak antara revolusi industri semakin pendek.
- Revolusi 1 → 2 (1760-1870): 110 tahun
- Revolusi 2 → 3 (1870-1969): 99 tahun
- Revolusi 3 → 4 (1969-2011): 42 tahun
Perkembangan teknologi AI, seperti ChatGPT (2022) ke GPT-4 (2023), hanya membutuhkan waktu 1 tahun. Kecepatan ini membuat adaptasi tenaga kerja Indonesia memiliki tantangannya tersendiri.
PHK vs Karier Masa Depan Baru: Mana yang Lebih Dominan?
Meskipun banyak pihak mengkhawatirkan dampak otomatisasi terhadap lapangan kerja di Indonesia, terutama dengan prediksi berkurangnya sejumlah pekerjaan, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Dengan reskilling yang tepat, AI justru berpotensi menciptakan peluang baru di dunia kerja.
Maka pertanyaannya bukan sekadar apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga pekerjaan baru apa yang akan muncul dan bagaimana proses transisi ini bisa dikelola semaksimal mungkin.
Baca juga: Cara Mulai Jadi Freelancer Sukses di Indonesia
Contohnya menurut laporan OJK tentang transformasi digital di sektor perbankan, sejak COVID-19, transaksi yang sebelumnya harus dilakukan di kantor cabang kini bisa diakses melalui aplikasi mobile banking. Akibatnya, permintaan terhadap staf klerikal perbankan menurun secara signifikan.
Namun, di sisi lain, muncul kebutuhan besar akan profesi baru yang bahkan belum ada lima tahun lalu.
Karier Masa Depan Baru di Bidang Data Analyst, Machine Learning Specialist, dan Role AI Lainnya
Teknologi terus bergerak maju, dan dengan itu, cara kita bekerja juga berubah. Profesi seperti Data Analyst, Machine Learning Specialist, dan AI Modelling Specialist adalah contoh nyata bagaimana AI menciptakan peran-peran yang beberapa tahun lalu bahkan belum ada dalam kamus industri.

Bagi mereka yang belum familiar, pekerjaan ini berpusat pada pemanfaatan data dan AI untuk membantu perusahaan mengambil keputusan, mengoptimalkan proses, atau bahkan menciptakan layanan yang lebih cerdas dan otomatis. Perusahaan dari berbagai sektor kini berlomba-lomba mencari individu dengan keahlian di bidang ini. Jika Anda sedang mencari peluang karier di era digital, memahami peran-peran ini bisa menjadi langkah awal untuk meraih pekerjaan yang tidak hanya relevan tetapi juga menjanjikan di masa depan.
Data Analyst
Di era digital, data adalah aset paling berharga bagi perusahaan. Namun, tanpa analisis yang tepat, data hanyalah sekumpulan angka yang tidak memiliki makna. Di sinilah Data Analyst berperan. Tugas mereka adalah mengumpulkan, menyusun, dan menganalisis data untuk mengidentifikasi pola yang dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan strategis.
Misalnya, dalam industri e-commerce, seorang Data Analyst bisa mempelajari kebiasaan belanja pelanggan untuk menentukan strategi promosi yang paling efektif. Di sektor keuangan, mereka dapat menganalisis pola transaksi untuk mendeteksi potensi risiko atau fraud.
Untuk menjadi Data Analyst, seseorang perlu memiliki pemahaman kuat tentang statistik, logika, dan pemrograman dasar menggunakan alat seperti SQL, Python, atau R. Selain itu, keterampilan dalam menggunakan platform visualisasi data seperti Tableau atau Power BI akan sangat membantu dalam menyajikan hasil analisis dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh tim bisnis.
Machine Learning Specialist
Jika Data Analyst fokus pada pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan, maka Machine Learning Specialist membantu mesin untuk belajar dari data dan membuat keputusan sendiri tanpa perlu diprogram secara eksplisit.
Karier ini sangat dibutuhkan di berbagai industri. Contoh nyata dari profesi Machine Learning Specialist adalah dalam dunia keuangan, misalnya, Machine Learning Specialist mengembangkan model AI yang dapat mendeteksi transaksi mencurigakan secara otomatis, mengurangi risiko fraud. Di sektor kesehatan, mereka menciptakan sistem yang mampu menganalisis ribuan gambar medis dalam hitungan detik untuk membantu dokter mendiagnosis penyakit dengan lebih akurat. Bahkan dalam industri otomotif, peran ini penting dalam pengembangan mobil tanpa pengemudi yang mampu mengenali rambu lalu lintas dan menghindari tabrakan.
Untuk menjadi seorang Machine Learning Specialist, seseorang harus memiliki keahlian dalam matematika, statistik, dan algoritma pembelajaran mesin. Penguasaan bahasa pemrograman seperti Python dan framework AI seperti TensorFlow atau PyTorch juga sangat diperlukan. Lebih dari itu, kemampuan berpikir logis dan eksperimental sangat penting dalam membangun model yang efisien dan akurat.
AI Modelling Specialist
Berbeda dengan Machine Learning Specialist yang membangun algoritma pembelajaran mesin, AI Modelling Specialist berfokus pada bagaimana model kecerdasan buatan dapat dioptimalkan agar lebih akurat dan efisien. Mereka memastikan bahwa model AI yang digunakan dalam sebuah sistem dapat bekerja dengan cepat dan meminimalkan kesalahan.
Dalam dunia bisnis, AI Modelling Specialist dapat membantu mengembangkan chatbot yang lebih natural dalam berkomunikasi dengan pelanggan. Di sektor keamanan siber, mereka bekerja menciptakan sistem deteksi ancaman yang mampu mengenali serangan siber sebelum terjadi. Bahkan di industri manufaktur, mereka membantu menyempurnakan AI untuk memprediksi kapan mesin akan mengalami kerusakan sehingga perawatan bisa dilakukan sebelum terjadi masalah besar.
Untuk menekuni karier masa depan ini, seseorang perlu memahami berbagai jenis model AI, mulai dari neural networks hingga algoritma berbasis statistik. Pengalaman dalam optimasi model serta kemampuan dalam mengolah data dalam skala besar juga menjadi faktor kunci dalam pekerjaan ini.
Ketakutan bahwa AI akan mengambil alih pekerjaan manusia memang beralasan, tetapi itu bukan gambaran utuh dari realitas yang terjadi. Seiring dengan hilangnya beberapa pekerjaan akibat otomatisasi, muncul pula karier masa depan baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Data Analyst, Machine Learning Specialist, dan AI Modelling Specialist adalah bukti bagaimana teknologi membuka jalan bagi generasi tenaga kerja yang lebih terampil dan berorientasi pada masa depan.
Rekomendasi untuk Masa Depan
Masa depan pekerjaan di era AI bergantung pada seberapa cepat tenaga kerja Indonesia bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Tanpa mengimbangi kinerja dalam bekerja dengan upaya reskilling dan upskilling, maka ketimpangan tenaga kerja bisa semakin lebar. Namun, jika individu dan institusi pendidikan merespons dengan cepat, AI justru bisa membuka peluang baru yang lebih luas.
Pemerintah, perusahaan, dan tenaga kerja memiliki peran penting dalam menentukan arah ini. Karena kebijakan yang mendukung pelatihan tenaga kerja, akses pendidikan berbasis teknologi, serta regulasi yang memastikan bahwa adopsi AI bisa menciptakan kesempatan baru bagi pekerja, menjadi faktor krusial dalam membentuk masa depan pekerjaan di Indonesia.
Pada akhirnya, ada satu hal yang pasti, AI adalah realitas yang tak terhindarkan. Bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi perubahan ini akan menentukan apakah AI menjadi alat yang memperkuat tenaga kerja Indonesia atau justru memperlebar kesenjangan pekerjaan di masa depan.